Desember 28, 2011

Waktu Ba'da Empat Raka'at



Surya sore mulai nampak, bayang-bayang kian memanjang. Langkah-langkah kecil terdengar memasuki halaman sebuah masjid tua yang berada di tengah Kota Yogyakarta. Mereka berjalan melewatiku, tersenyum lepas sambil berceloteh ceria tak terbebani. 
Lalu mereka berlari, mengejar sebuah bola yang dilemparkan oleh salahseorang dari mereka. Aku mendekat. Kusaksikan kebebasan mereka. Kudengarkan teriakan-teriakan kebersamaan. Kurasakan harum angin sore yang melintas. Aku menikmati itu.Teringat masa-masa yang lalu bersama kawanku. Kawan yang telah pergi. Kenangan di sebuah rutinitas bersama-sama setelah ba'da Ashar. 

November 28, 2011

Windflowers


Windflowers, my father told me not to go near them,
he said he feared them always and he told me that they carried him away
Windflowers, beautiful windflowers, I couldn't wait to touch them,
to smell them, I held them closely and now I cannot break away
their sweet bouquet disappears like a vapor in the desert

so...take a warning. son.....
Windflowers....ancient windflowers their beauty captures every
young dreamer who lingers near them
but ancient windflowers I love you

(Seals & Crofts)

November 24, 2011

Angin Selatan


Waktu fajar menghampiri bersama mendung hari itu. Selimut kusibak, aku berdiri tertatih sambil kulemaskan jemari persendian sejenak, sekaligus berucap salam perpisahan kepada sang mimpi yang hendak pulang. Aku melangkah, kubuka daun jendela kamarku. Di luar oksigen telah duduk manis, menyapa hangat seolah mengajakku bermain di depan beranda. Aku diam, kupandang langit yang masih muram, ditemani matahari musim hujan yang sedang pulasnya tidur di kala itu. Sepertinya hari itu pagi akan hilang. Entah...

Aku kembali, melanjutkan kisah. Jumat, 18 November seorang teman mengajakku untuk melangkah ke selatan, sebuah wilayah yang tenang, rindu akan keramaian. Damai, seolah membuat iri penduduk kota. Pagi itu kami berangkat, matahari yang sedang tidur seolah bersahabat. Kami berlima : Mara, Rere, Julia, Desta dan aku.

Waktu kian merambat, siang menggantikan kedudukan waktu fajar. Kami menyusuri aspal jalanan khas pegunungan. Pepohonan menyambut, udara sejuk menyeruak mengganti udara kota yang tertinggal di paru-paru kami. Bukit-bukit kapur menjulang, tanah basah bersemai tanaman subur kian menambah agung pemandangan. Terasering batuan tertata rapi, berjajar menghiasi tanah merah di wilayah itu. Ribuan pohon jati pasca meranggas musim panas seolah berhias, hijau "emerald green" (sumber: liat warna di bungkus cat acrylic :p ) menambah sejuk suasana di kala itu. 

Satu jam lebih perjalanan membawa kami memasuki pantai, aroma laut tercium, pasir putih memasuki celah alas kaki kami. Diam sejenak, memandang bebas tak terbatas, hamparan butiran pasir putih berbaur kilauan air laut berhasil membius kami. Bebas, hanya ada beberapa penduduk setempat, "Seolah pantai milik sendiri.", salah satu temanku berkata.
Menikmati kebebasan, dingin air laut yang meleburkan penat, hamparan karang yang gagah seolah menjadi pengawal, mempersilahkan kami untuk menjadi sang tuan, dahan cemara udang melambai mengajak menari untuk kebebasan, suara deburan ombak mengiringi untuk berteriak.


Ketika siang disambut sore, lelah di tubuh kami mulai terasa. Mendung yang agung mulai membentang di hamparan langit luas pantai itu. Kami memutuskan untuk cukup. Menyisakan sisa tenaga untuk melanjutkan perjalanan untuk pulang. Gerimis mengiringi untuk menutup cerita kami hari itu.

November 22, 2011

Memori Hari Mendung



Semilir angin sunyi tak terungkap
Menyibak rerimbunan awan yang seolah keabuan
Menapak untuk hari
Di sela-sela musim yang tersempatkan untuk berbenah
Rintik-rintik kerinduan yang terbaur oleh hujan, berkaca akhir yang tak kuasa
Hingga lambaian tangan tak berdaya
Sampai memori hari mendung ini tersirat

Untuk diceritakan nantinya untuk sang matahari, ketika lembayung tertadah langit
Ketika angin tak enggan berkicau
Ketika hujan mulai tersibak
Ketika akhir untuk musim

November 21, 2011