Agustus 20, 2013

Sokoliman - Playen - Paliyan

Suatu pagi di bulan puasa seorang teman mengajakku pergi entah kemana, tanpa tujuan. Lalu kutawarkan untuk ke Gunungkidul. Ada sebuah tempat menarik bagiku di daerah ini, yaitu  komplek situs peninggalan jaman primitif. Lokasinya terletak di daerah Sokoliman, sebuah tempat yang sangat asing bagiku karena selama berkeliling Gunungkidul belum pernah melewati tempat ini. 
Sembari menunggu temanku datang ke rumah kusempatkan googling dulu mencari lokasi daerah ini. Namun di google map tidak ada daerah Sokoliman, yang ada hanya nama SD Sokoliman. Tapi tidak apa, Itu cukup menjadi petunjuk, nanti modal tanya warga saja.
Setelah temanku datang, kami berkendara menuju arah Jl. Wonosari. Tujuan pertama kami yaitu Kota Wonosari, karena di google maps letak SD Sokoliman sangat mudah bila dijangkau dari kota itu.
Sekitar 1 jam perjalanan dari rumah, kami sampai di kota Wonosari. Dari tempat ini kami bermodalkan GPS saja menuju SD Sokoliman, dan lokasi situs purbakala kami belum tahu.
Dari kota itu kami berkendara ke utara, mengukiti arah di GPS. Melaju melewati medan jalan beraspal yang cukup bagus, namun lama-lama petunjuk mengarah ke jalan kecil yang cukup Ambyar (Rusak) yang terbuat dari bongkahan batu-batu kapur berserakan. 
Imajinasi betapa mudahnya berjalan dari kota Wonosari musnah ketika melewati jalan yang ditunjukkan GPS ini. Awal mula jalan raya yang besar dan mulus sekarang berubah menjadi jalan sepi selebar 2 meter yang terbuat dari batu kapur. Ya sudahlah mau gimana lagi, biar lambat asal selamat.
Ditengah kebingungan mencari arah. Tiba-tiba kami mendapat sebuah berkah jalan-jalan (berkah bulan Puasa :D). Ada sebuah papan kayu petunjuk bertuliskan Goa Sioyot. Sebuah tempat yang belum pernah aku dengar. Sayang bila dilewatkan karena terlanjur melewati jalan yang susah. Kami berbelok menuju jalan yang ditunjukkan oleh papan itu, jalanan yang terbuat dari tanah dan batuan yang cukup sempit seperti di pematang sawah. Papan tadi itu merupakan satu-satunya papan petunjuk, sehingga kami kebingungan, malahan sempat kesasar di dalam kebun singkong sambil mengendarai motor :D 
Ternyata di dekat kebun tadi ada jalan kecil, motor tidak bisa masuk sehingga harus berjalan kaki. Kami melangkah melewati hutan bambu, tak jauh dari sana terdapat lubang yang ternyata itu mulut goa. Ukurannya tidak begitu besar dan tidak dalam (hanya semacam cekungan), namun itu hanya sepengetahuanku pada saat itu. Menurut beberapa sumber, Goa Sioyot ternyata bisa dimasuki lebih dalam namun perlu perlengkapan khusus serta pemandu yang berpengalaman, untuk memasuki mulut goa perlu merangkak posisi tiarap karena celah dari mulut goa ini sangatlah sempit.








Setelah dari Goa Sioyot kami meneruskan perjalanan mencari SD Sokoliman, kami menelusuri jalanan berbatu lagi. Namun sepanjang jalan kami telusuri tidak ada SD disana. Yang kami temukan adalah persimpangan jalan beraspal. Di persimpangan itu ada bapak-bapak yang sedang berkumpul, kami coba bertanya tentang situs purbakala di Sokoliman. Ternyata, persimpangan ini terletak di timur wisata Goa Pindul, Desa Bejiharjo. Dan letak wilayah Sokoliman berada di utara persimpangan ini. Jadi kesimpulannya, jalanan yang kami lalui tadi lebih susah dan ternyata lebih mudah melewati jalan arah Goa Pindul (! -___-).
Berdasarkan petunjuk yang diberikan bapak-bapak tadi, dari persimpangan itu mengikuti jalan terus ke arah utara sampai menemukan rumah tingkat lalu belok kiri, terus tanya warga. Kalau sudah sampai disini untuk menemukan tempat itu tidaklah sulit, ada beberapa papan petunjuk jika masih kesulitan cobalah tanya ke warga dengan sopan, pasti akan diberitahu dengan ramah.
Perjalanan kami lanjutkan. Menyusuri jalanan serta hamparan pohon kayu putih. Tebing-tebing batu kapur ciri khas Gunungkidul juga terlihat. Tak lama setelah itu kami sampai di area situs purbakala.
Area situs berada di dekat perkebunan warga. Tidak ada pos penjagaan maupun loket penjualan tiket. Area ini hanya dilindungi pagar dengan kawat berduri. Mula-mula kami kira tidak bisa masuk kedalam. Ternyata ketika akan masuk, pintunya hanya dirantai saja tidak digembok. 
Panas siang itu sangat menyengat, kaki kami melangkah masuk menapak tanah merah di area situs purbakala Sokoliman. Hamparan fragmen-fragmen batu yang berjajar rapi seolah menyambut kami. Sisa-sisa peradaban masa lampau yang masih tersisa berkumpul. Kurasa mereka mempunyai banyak cerita. Namun sayang, ia tak sanggup untuk kuajak berbicara. Aku berkeliling, mengamati jajaran menhir yang berbentuk lonjong berukuran bermacam-macam.
Ditengah area situs terdapat beberapa batu yang tersusun membentuk persegi, itu merupakan sarkofagus atau kubur batu yang digunakan untuk mengubur orang pada masa lampau. Benda-benda peninggalan di tempat ini berbeda dengan situs candi di Yogyakarta pada umumnya karena benda-benda ini diciptakan pada jaman yang lebih primitif/prasejarah sedangkan di Yogyakarta merupakan peninggalan Hindu-Budha.




















Matahari berjalan perlahan menuju arah barat, kami merasa sudah cukup untuk berimajinasi tentang tempat ini. Namun sayang bila langsung kembali pulang. Aku mengingat sebuah tempat yang merupakan peninggalan jaman primitif, yaitu Goa Braholo. Namun aku tidak tahu pasti itu terletak di wilayah apa, sepertinya di daerah Karangmojo . Berhubung hapeku lowbatt sehingga tidak bisa searching, temanku menyarankan untuk menanyakan lokasi itu kepada bapak-bapak di persimpangan tadi.
Akhirnya kami melaju kendaraan kembali ke persimpangan. Bertemu bapak-bapak yang tadi dan menanyakan letak lokasi Goa Braholo. Namun bapak itu tidak tahu, mereka menyarankan ke Goa Pindul atau Goa Sriti saja, yahhhh (! -__-). Kemudian aku mencari alternatif destinasi lain, kutanyakan tentang lokasi purbakala lain di dekat tempat ini. Ternyata seorang bapak menjelaskan ada 2 tempat, di sebelah timur ada sebuah lokasi semacam situs (tp aku lupa namanya) dan di sebelah barat ada lokasi penemuan arca Budha. berhubung lokasi yang timur itu cukup jauh kami tertarik untuk ke lokasi penemuan arca Budha.
Bapak itu memberitahu kami untuk mengikuti jalan ini kebarat hingga menemukan perempatan pertama, lalu belok kanan, bila bertemu warga coba bertanya. Lalu kami mengikuti sesuai petunjuk, namun tidak juga menemukan perempatan hingga sampai dekat Goa Pindul. Kami berhenti di dekat pembangunan rumah, mencoba bertanya kepada tukang. Namun tukang-tukang disana tidak tahu, malah menjelaskan arah ke situs Sokoliman. Lalu aku menanyakan bahwa lokasi penemuan arca itu belum lama, seorang dari tukang menjelaskan tapi agak ragu-ragu. Dia memberitahu kami untuk balik arah dari jalan tadi, lurus ke timur hingga sampai ke sebuah gereja lalu ada jalan ke utara (belok kiri).
Mengikuti saran tukang tadi akhirnya menemukan gereja, lalu belok ke utara. Di tempat ini kami kembali bingung, tidak ada orang yang lewat untuk ditanyai. Terus berjalan melewati hutan jati, mengawasi kanan-kiri yang ada hanyalah semak dan pepohonan, hingga akhirnya terhenti di ujung sungai. Di tempat itu terdapat sebuah komplek agak luas ditumbuhi pohon besar, awal mulanya aku kira itu lokasi penemuan arca Budha namun disana terdapat seperti pendopo dan bekas sesaji. Kami ragu itu tempat yang kami maksud, akhirnya mencoba mencari orang di sekitar sungai.
Disana hanya ada seorang nenek, kami menghampirinya. Bertanya tentang lokasi penemuan arca Budha. Ternyata beliau tahu, lokasi itu tak jauh dari rumahnya yang berada di hutan jati tadi. Beliau menawarkan untuk mengikutinya saja karena saat itu mau pulang. Kami bertanya tentang kompleks di dekat sungai . Menurut penjelasan nenek itu merupakan lokasi makam anjing dari sesepuh desa itu. Tempat itu digunakan untung mencari penglarisan/ untuk pelaris bisnis semacam pesugihan.
Sambil berjalan mengikuti nenek itu, aku sempat bertanya kepada beliau tentang Goa Braholo, aku masih penasaran dengan tempat ini. Tetapi nenek itu juga tidak tahu, beliau malah memberitahu tentang Goa Seropan. Beliau menyarankan kami jangan datang ke tempat itu katanya angker, beliau bercerita tentang 2 tetangganya yang membuka jalur di goa itu mendadak sakit dan belum sembuh sampai sekarang.
Beberapa puluh meter berjalan dari sungai tadi akhirnya sampai, nenek itu menunjukkan lokasi dan kemudian beliau berpamitan untuk langsung pulang. Kami menuju lokasi, ternyata patung Budha nya sudah tidak ada, mungkin sudah dipindahkan ke tempat yang aman. Yang kami temukan disana hanyalah batu berbentuk seperti sarkofagus di Sokoliman dan 2 buah lubang galian yang kemungkinan bekas penggalian arca itu. 









Tak lama di lokasi penemuan arca kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, temanku ada keperluan di posko KKN di daerah Girikarto, Gunungkidul. Dari daerah Sokoliman untuk menuju Girikarto kami putuskan melewati Playen-Paliyan. Ternyata aku menyimpan peta lokasi situs purbakala di daerah Plembutan, Playen. Tapi karena kurang paham dengan peta tersebut akhirnya kita bertanya-tanya pada orang sekitar. Namun ternyata setelah tanya juga bingung, kamu putuskan langsung ke Girikarto saja karena waktu sudah hampir sore. Tapi ditengah jalan, temanku melihat papan nama bertuliskan candi. Kami ikuti saja arah itu akhirnya sampai :D
Situs Plembutan ini sudah tidak berbentuk lagi alias tinggal puing-puing yang berserakan. menurut info di papan informasi pada saat penemuan candi ini, ditemukan pula patung Ganesha dan trisula Dewa Siwa. dengan adanya penemuan itu menandakan candi ini merupakan candi Hindu

 








Tidak ada komentar: